Selasa, 05 September 2017

Revolusi Iran dalam Film Agro 2012



Analisis Revolusi Iran dalam Film Agro 2012


Oleh : Angga Rosidin

Sebuah bangsa melakukan gerakan perubahan adalah jalan untuk menuju sebuah peradaban yang baik. Sebuah negara gagal jika stabilisasi tidak terkendali dan konflik terus berlarut – larut. Saya melihat perubahan yang diinginkan rakyat Iran adalah sebuah jalan yang tepat. Karena pada masa kepemimpinan Shah Pahlevi masyarakat Iran dibawah tekanan dalam imprealisasi negara barat dan masyarakat kelaparan dimana – mana. Dan seperti yang diungkapkan oleh para ulama syiah bahwa pemimpin negara bukanlahhanya sebagai keturunan darah saja tapi pemimpin itu harus cerdas, bijak dan sholeh. Sesuai dengan penganutan bangsa Iran yaitu Islam Syiah. Saya melihat revolusi ini merupakan gerakan – gerakan seksi yang dilakukan oleh para ulama syiah. Kenapa tidak? Disaat rakyat Iran dalam keterpurukan, mulai dari perusahaan minyak bumi dikelola oleh inggris dan Amerika, lalu kepemimpian yang sangat otoriter dan memihak terhadap asing. Lalu hadirlah penyelamat rakyat iran yaitu para ulama syiah. Dimana mayoritas masyarakat Iran beragama Islam aliran Syiah membawa pencerahan kepada mereka untuk menggulingkan pemerintahan Iran dan menghancurkan kedutaan Amerika di Teheran. Sesuai dengan cita – cita rakyat Iran menggulingkan kepemimpinan Shah Pahlevi dan menasionalisasi aset – aset negara. Dan jalan terbaik adalah membentuk Republik Islam Iran  sesuai dengan syariat Islam Syiah (Imamah). Pergerakan ini dipimpin oleh Ayatulloh Khomeini dan saya melihat orang ini adalah pahlawan Revolusi Iran karena dia mampu membawa Iran keluar dari kediktatoran Shah Pahlevi.
Dari jurnal yang saya baca  SYIAH DAN POLITIK: STUDI REPUBLIK ISLAM IRAN karya Abd. Kadir” bahwa meskipun Iran adalah Negara Republik Islam berbasiskan aliran islam syiah (imamah) tapi untuk dewan nasionalnya, konstitusi Iran memberikan satu kursi gratis terhadap kaum kristen, yahudi, Armenia dll. Bila melihat kebijakan itu diterapkan di Iran apa bedanya dengan sistem pemerintahan berdasarkan Pancasila sesuai yang dianut oleh Indonesia? Ini adalah sebuah jawaban bahwa meskipun Iran berdasarkan syariat Islam Syiah tapi mereka menekankan toleransi juga ada pengadilan untuk non muslim sesuai dengan hukuman agama atau ras masing - masing. Jika dilihat dari kacamata pengamatan saya lahirnya Revolusi Iran bahwa mereka ingin ada perubahan ketatanegaraan monarki ke republik dengan demokrasi modern  dan menggunakan trias politika namun  dasar mereka atau ideologi mereka sesuai dengan jiwa bangsa Iran yaitu Syiah. Dan hasilnya cukup baik sampai tahun 2017, pada tatanan sosial pun banyak juga terjadi perubahan secara masif seperti Iran banyak sekali menghasilkan ilmuan muda, bahkan semua kilang minyak di laut hitam mutlak milik Iran untuk anggaran kesejahteraan rakyat Iran dan yang paling menakutkan dunia adalah Iran memiliki Reaktor Nurklir sendiri di timur tengah untuk bom nuklir, bahkan mereka mempunyai program tahun 2020 mendaratkan orang diangkasa. Inilah hasil dari warisan sementara yang dihasilkan dari Revolusi Iran dari tahun 1979 – 2017 yang semua kebijakan berdasarkan aspirasi rakyat sesuai ideologi Islam Syiah.
Perubahan sosial dan politik yang terjadi Iran merupakan bentuk kesuksesan dalam menata peradaban negara Iran sesuai falsafah syiah. Dan yang paling penting untuk diambil garis besarnya bahwa lahirnya Revolusi Iran untuk kepentingan rakyat Iran secara penuh bukan untuk kepentingan para ulama dan para kapitalis syiah. Dan suksesnya Revolusi Iran yang membawa Iran sebagai negara dari timur tengah  yang menakutkan baik secara politik dan sosial didunia. Ini adalah tanda keseriusan pemerintah Iran dalam melaksanakan perubahan peradaban bangsanya. Dan perubahan yang dituntut sebuah kenyataan dimasa sekarang dan peradaban yang diimpikan sudah tersistem dalam pemerintahan Iran.

Minggu, 03 September 2017

Pengaruh Jawara dan Kiayi dalam Pelaksanaan Pilkada Banten Melalui Perspektif Hegemoni juga Presentasi dan Partisipasi



Pengaruh Jawara dan Kiayi dalam Pelaksanaan Pilkada Banten Melalui Perspektif Hegemoni juga Presentasi dan Partisipasi

Angga Rosidin
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

ABSTRAK
               Jawara and Kiayi are elements of society whose status as a symbol of society. Jawara is seen as a strong man. And because it can affect society indirectly both in social and political. In addition, the role of Kiayi in the community is a person who has a charismatic. Therefore the direction or choice of a kiayi can inspire the thinking of the local community. Because the choice of Kiayi is God's representative and it becomes trust. For ultur Banten people who are still conservative, recognize both elements are their symbols as a guide and their path to the life of a good society. But in today's reform era these two elements become a tool for percentage and presentation in the world of democracy. Jawara and Kiayi have gone out of their main function and the transition into a huge political force in Banten Province.

Key word : Jawara, Kiayi, Hegemoni, Refresentasi, Presentasi

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan bermasyarakat yang demokratis pasti sebuah konflik merupakan sebuah cerita penting yang pada substansinya yaitu menciptakan sebuah perubahan. Sebuah demokrasi bisa dikatakan maju karena terdapat sebuah pro dan kontra dalam kegiatan demokrasi tersebut. Seperti saat membuat kebijakan adanya sayap kanan dan terdapat sayap kiri selain itu juga ada sebuah pola kepemimpinan dimana masyarakat bisa mengajukan pendapat dan ikut serta dalam musyawarah seperti musrembang. Tentu saja ini yang disebut kenaikan demokrasi dalam berpartisipasi.
Namun tak hanya itu saja jika kita lihat sekarang penomena tentang partisipasi bahwa antara masyarakat dengan eksekutif tidak perlu lagi dihubungkan oleh legislatif sebagai representatif masyarakatnya contoh Walikota Surabaya Tri Risma Handayani, Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Gubernur Jakarta Basuku Tjahaya Purnama dan Presiden Pak Jokowi Widodo. Mereka adalah tokoh representasi simbolik yang mewakilkan para pemimpin lain di Indonesia yang melakukan blusukan langsung kemasyarakat dan mereka semua itu contoh pemimpin yang melakukan pendapatan langsung kepada masyarakat untuk di ambil kebijakan semua mereka lakukan tentu terdapat pro dan kontra dan disinilah proses demokrasi menjadi hidup karena masyarakat berpartisipasi secara langsung kepada pemerintah. Tentunya yang jawaban kontra mereka bilang tidak sesuai dengan teori juga tupoksinya karena untuk di indonsia ada anggota legislatif yang setiap tahunnya melakukan reses.
Melihat itu semua terdapat sebuah pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan sebuah kesimpulan. Karena hal itu juga berpengaruh terhadap hegemoni bila tadi kita melihat dari pemimpin secara luas yaitu tingkat nasional. Bagaimana dengan Banten? Sebuah provinsi baru di pulau jawa yang masyarakatnya masih pasif dalam presentasi politik? Tentu apakah ini akan mempengaruhi terhadap hegemoni dimasyarakat Banten? Sebuah pertanyaan yang sangat menekankan terhadap demokrasi yang ada di provinsi Banten. Bagi saya ini adalah hal menarik dimana partisifasi masyarakat Banten dengan hegemoni yang dilakukan oleh dinasti Banten menjadi sebuah bertolak belakang yang kontestasinya sebuah kubu kanan dan kubu kiri. Menarik untuk dikaji bila sebuah kepemimpinan didaerah Banten yang mudah sekali untuk memobisasi masa yang dalam keanggotaannya adalah jawara dan ulama. Bahkan Pengamat Politik Banten, Gandung Ismanto, kepada Tribunnews.com Jumat (4/10/2013) malam mengungkapkan analisisnya. Menurut Gandung, Dinasti Banten didukung oleh dua pilar penting yakni kelompok ulama dan jawara. "Sepanjang dua pilar ini masih mendukung, maka dinasti belum akan runtuh," ujarnya. Namun bukan berarti Dinasti Banten berupa hegemoni keturunan TB H Chasan Sochib tak bisa berakhir. Menurut pria yang juga pengajar di Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, itu bisa terjadi bila politik transaksional antara penguasa dan pilar pendukungnya terputus. (TRIBUNJOGJA.COM : 2017) kedua pilar ini sangat unik untuk dikaji lebih mendalam dalam perspektif hegemoni dalam partisipasi.

TEORI
Metode Menurut Hanna Pitkin bahwa representasi dan partisipasi terdapat dua unsur yaitu untuk membangun formal, simbolik dan deskriptif. Sedangkan untuk aksi yaitu menghasilkan substansi. (Ppt. Dian, Hikmawan. Representasi dan Partisipasi. 2017). Sebuah representasi yang ada di provinsi Banten melihat ini semua sangat tidak subtansial sekali. Sangat terlihat sebuah menghegemonian sebuah kelompok jawara dibanten. Mereka menghegemoni semua lapisan dan elemen masyarakat di Banten tak bisa dibatahkan. Jika semua kalangan politisi ingin menjadi pemimpin kepala daerah Kabupaten/Kota membawa sebuah amanah untuk membela masyarakat namun muncul pertanyaan, masyarakat yang mana? Pasti jawabnya yaitu representasi simbolik dimana simbol jawara sangat ditakuti oleh masyarakat Banten dan semua kebijakan harus memihak terhadap golongan jawara, dimana jawara disini adalah dinasti atut yang dikendalikan pertama kali oleh H. Chasan Sohib. Tak hanya itu kaum ulama atau kiayipun ikut serta dalam meramaikan panggung demokrasi di Banten. Banyak sekali sebuah ungkapan dari masyarakat bahwa keluarga atut tidak hanya dari kelurga jawara tapi keluarga Atutpun mengklaim sebagai keluarga dari keturunan Banten Lama. Itu terbukti bahwa dia memakai gelar Ratu dan Tubagus disetiap margakeluargnya. Dengan katalain bahwa keluarga Atut adalah keturunan ulama dari kesultanan Banten. Tak hanya itu teori Hanna Pitkin ini terbukti representasi dan persentasi melalui simbolik memiliki pengaruh yang sangat besar sekali contohnya saja . Menjelang Pilkada Ratu Atut biasanya berkeliling ke tiga komplek makam tersebut. Selain untuk berdoa meminta restu dan keselamatan di ketiga pemakaman keramat tersebut, Ratu Atut juga sekaligus memohon dukungan dan restu dari keturunan-keturunan raja yang bermukim di sekitar pemakaman. "Dia (Atut) biasa bawa bingkisan, uang juga untuk dibagi-bagikan. Banyak juga yang berpikir pendek dan ikut memilih dia," tutur Tubagus. (TRIBUNNEWS.COM : 2017)
Dalam kepemimpinan dinasti Banten tak bisa melihat dari teori dari Hanna Pitkin saja. Namun teori dari hegemoni menjadi sangat subtansial jika dikaji lebih dalam. Teori hegemoni dibangun di atas preis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Menurut Gramci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah yang dimaksud Gramci dengan “hegemoni” atau menguasai dengan “kepemimpinan moraldan intelektual” secara konsensual. Dalam kontek ini, Gramci secara berlawanan mendudukan hegemoni, sebagai satu bentuk supermasi satu kelompok atau beberapa kelompok atas yang lainnya, dengan bentuk supermasi lain yang ia namakan “dominasi” yaitu kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik (Sugiono, 1999:31).
Jika dikaitkan pada masa kini, pengertian hegemoni menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara-negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara ketat terintegrasi dalam negara “pemimpin”. Dalam politik internasional dapat dilihat ketika adanya perang pengaruh pada perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet yang biasanya disebut sebagai perang untuk menjadi kekuatan hegemonik dunia. (Nezar Patria, Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999 hal. 116).
Melalui konsep hegemoni, Gramsci beragumentasi bahwa kekuasaan agar dapat abadi dan langgeng membutuhkan paling tidak dua perangkat kerja. Pertama, adalah perangkat kerja yang mampu melakukan tindak kekerasan yang bersifat memaksa atau dengan kata lain kekuasaan membutuhkan perangkat kerja yang bernuansa law enforcemant. Perangkat kerja yang pertama ini biasanya dilakukan oleh pranata negara (state) melalui lembaga-lembaga seperti hukum, militer, polisi dan bahkan penjara. Kedua, adalah perangkat kerja yang mampu membujuk masyarakat beserta pranata - pranata untuk taat pada mereka yang berkuasa melalui kehidupan beragama, pendidikan, kesenian dan bahkan juga keluarga (Heryanto, 1997). Perangkat karja ini biasanya dilakukan oleh pranata masyarakat sipil (civil society) melailui lembaga - lembaga masyarakat seperti LSM, organisasi sosial dan keagamaan, paguyuban paguyuban dan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups). Kedua level ini pada satu sisi berkaitan dengan fungsi hegemoni dimana kelompok dominan menangani keseluruhan masyarakat dan disisi lain berkaitan dengan dominasi langsung atau perintah yang dilaksanakan diseluruh negara dan pemerintahan yuridis (Gramsci : 1971).

METODE
Metodologi yang digunakan untuk membuat jurnal ini adalah metodologi kulitatif. Dalam metodologi kualitatif ini adalah metodologi kualitatif deskriptif. Dengan kata lain mengkaji dari hasil beberapa masalah didalam masyarakat, tata cara dan adat masyarakat serta situasi dan kondisi dalam masyarakat, termasuk tentang hubungan kegiatan – kegiatan, sikap – sikap, dan pandangan dari suatu fenomena yang ada.
Dalam pengumpulan data sendiri saya sebagai penulis melakukan pengumpulan data melalui studi pustaka baik dari berita diinternet ataupun berita di mediasosial juga di buku – buku baik itu di perpustakaan yang ada di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ataupun di Perpustakaan Daerah Provinsi Banten. Setelah mendapatkan itu semua saya melakukan kajian dan menggabungkan antara teori dan fakta fakta yang ada dilapangan menjadi sebuah jurnal.

HASIL PENELITIAN
Dominasi kelompok jawara terlihat dalam berbagai peristiwa, seperti proses pengisian anggota DPRD Banten dan proses pemilihan Gubernur Banten tahun 2001 yang mampu menempatkan anak Chasan Sochib, Atut Chosiyah menjadi Wakil Gubernur. Ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Jawara untuk memenangkan pemilihan Gubernur Banten 2001. Pertama, mereka memenangkan pertarungan di internal Golkar mengenai posisi apa yang akan diambil dan siapa yang akan dimajukan. Jawara berhasil memajukan Ratu Atut Chosiyah sebagai calon Wakil Gubernur dan menyingkirkan Aly Yahya yang telah mengambil formulir sebagai calon Gubernur dari Partai Golkar. Kedua, Jawara berhasil mengacaukan koalisi PPP dengan PDIP. Caranya, Golkar menggandeng PPP sebagai mitra koalisi utama, dengan pendekatan langsung Chasan Sochib – tokoh Jawara, tokoh Partai Golkar Banten, Ayah Atut Chosiyah – ke Djoko Munandar, Ketua DPD PPP Banten. Dengan mesin politik utama Golkar dan Jawara, para kader yang bergabung di tim sukses berbagai fraksi memberikan suara ke pasangan Djoko-Atut. Ketiga, Jawara melakukan intimidasi dengan mengerahkan kekuatan massa atas nama tenaga pengamanan. Bahkan di dalam ruang sidang Jawara hadir. Ini memberikan tekanan psikologis kepada anggota Dewan. Selain itu aktivitas ancam mengancam juga berjalan walauipun dihembuskan melalui desas-desus selama proses pemilihan. Keempat, Jawara melakukan politik uang. Kuat indikasi mereka membeli suara anggota Dewan dengan harga ratusan juta rupiah. Dengan ini posisi mereka semakin kuat. Kelima, penguasaan opini. Jawara melakukan kontrol terhadap opini yang berkembang terutama di media massa lokal. Jawara dengan kepentingannya agar Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten dilanjutkan, berhasil mengendalikan opini. Jawara memiliki dua strategi. Pertama, membeli kalangan media yang mendukung kepentingan Jawara. Kedua, menekan kalangan media yang dianggap tidak kooperatif dengan kekerasan. Dengan berbagai strategi inilah kemudian Jawara berhasil menempatkan Djoko Munandar dan Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten untuk Periode 2001-2006. Memiliki peran besar dalam naiknya pasangan Djoko-Atut di bursa pemilihan Gubernur banten diakui oleh Chasan Sochib menjawab pertanyaan seorang wartawan apakah Gubernur berada dibawah bayang-bayang Jawara? “Tidak seperti itu. Abah cuman kasih pandangan-pandangan. Kalau dia berbuat keliru dalam mengemban amanah kepemimpinan di Banten, Abah akan luruskan. Sebab Abah yang paling bertanggungjawab dengan Djoko. Sebab dia naikkan atas dukungan Abah. Oleh karena itu Abah malu kalau Djoko keliru dalam memimpin. Kalau keliru memimpin lebih baik tinggalkan saja jabatannya itu. Djoko itu kan tidak ada apa-apanya.” (Saya memang Gubernur Jendral, dalam Tabloid Mimbar Daerah, Edisi 17-23 November 2003) Jelas dalam pernyataan diatas Chasan Sochib menegaskan posisinya di Banten dan perannya dalam menaikkan Djoko sebagai Gubernur. Sebagai tokoh yang dianggap paling berpengaruh di Banten, Chasan Sochib sering dianggap sebagai Gubernur Jenderal, julukan yang tak pernah dibantah oleh dirinya.
Selanjutnya Pandangan kepercayaan dan budaya masyarakat Banten dibentuk melalui perjalanan sejarah perjuangan para ulama di Banten sebelum kemerdekaan. Para ulama sangat berjasa dalam melawan kolonialis, bahkan masyarakat Banten menganggap kepemimpinan harus dipegang oleh ulama dan Jawara, jika ulama atau kiayi tidak eksis lagi, maka Jawara berkewajiban untuk menggantikan posis kiayi tersebut. Para Jawara mempercayai dan meyakini bahwa kepemimpinan kiayi adalah representasi kepemimpinan para nabi yang dapat memperbaiki masyarakat dari kejahatan dan keburukan menuju masyarakat madani seperti yang dilakukan pada masa Rasulallah SAW. Kepercayaan dan keyakinan ini menjadi landasan berpijak kelompok Jawara dalam menilai dan menimbang masalah kehidupan baik yang ada di internal lingkungan masyarakat maupun dalam urusan di pemerintahan.

PEMBAHASAN
Selanjutnya penghegemonian di provisi Banten ini kelompok jawara memiliki kedudukan tinggi dengan kaum kiayi. Sangat ironi pemimpin Banten dikendalikan oleh kaum jawara dimana sekarang menjadi sebuah dinasti kuat diprovinsi Banten. Dalam hegemoni ini terjadi sebuah pertentangan antara demokrasi dan diktaktorat states, yang mana dinasti Banten ini sangat kuat. Dan saat pengadakan proyek harus ijin terlebih dahulu kepada pemimpin dinasti. Juga untuk mencalonkan walikota/bupati di Banten hal ini adalah senuah penguatan wacana yang dibangun bahwa semua akan lancar menguasai Banten jika di dahuljui denga  ijin terhadaf dinasti Banten. Atau gabung dengan dinasti Banten. Ketua Umum Kesti  Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir (TTKKDH) Maman Rijal mengatakan kehadiran seluruh pengurus  pusat sampai  pengurus ranting serta anggota Kesti TTKKDH untuk menyepakati arah dukungan kepada pasangan  calon Gubernur  dan Wakil Gubernur Banten nomor urut 1, Wahidin Halim-Andika Hazrumy  (WH-Andika) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)  Banten 2017 mendatang."Mari satukan barisan. Jaga persatuan, dan raih kemenangan bersama Pak WH-Andika. Ingat nomor 1," ujar Ketum Kesti TTKKDH Maman Rijal dalam sambutan yang dibacakan oleh Wasekjen TTKKDH, Buang Jamil saat acara Deklarasi Dukungan Cagub dan Cawagub, Wahidin Halim-Andika Hazrumy di ruang Balairung, Ratu Bidakara Hotel, Sabtu (5/11/2016). (www.tangerangnet.com : 2016). Jika seseorang tidak melakuakan itu tentu langkahnya akan sia - sia contoh saja saat Rano - Embay mereka sangat dimusuhi oleh dinasti Banten dan tentunya Rano Karno dibuatkan strategi kalah oleh jawara Banten saat pilkada Banten.
Bahkan lebih parahnya lagi Rano Karno di seret dalam kasus korupsi bersama Atut. Pada sidang perdana kasus alkes itu, Sukatma memastikan, bahwa nantinya dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akan diungkap fakta yang selama ini tertutup rapat, yaitu dugaan keterlibatan Rano Karno, yang ikut menerima dana dari proyek alkes tersebut sebesar Rp 300 juta, yang saat kasus itu terjadi menjabat sebagai Wakil Gubernur Banten. “Ini akan menjadi fakta persidangan di mana keterlibatan Rano Karno dalam menikmati keuntungan dari proyek alkes tersebut akan terungkap, karena tercatat dalam dokumen resmi surat dakwaan JPU KPK. Ini hanya satu fakta, masih ada fakta lain yang akan terungkap jika kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) akan mulai disidangkan,” jelasnya. (bantenheadline.com) Ini membuat kaget masyarakat Banten yang awalnya Rano Karno tidak ikut camput alat kesehatan di Banten dan hasil pilkada Bantenpun Rano Karno kalah dan di gugat ke MK dan gugatan itu ditolak sebuah bukti kuat bahwa hegemoni kelompok jawara yang ada di dinasti banten sangatlah kuat dan tak terkalahkan.
KH Djunedi, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Ulum, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang mengaku memberikan dukungan kepada pasangan WH-Andika karena dianggap sebagai saudara seiman dan memiliki kesepahaman untuk membangun Banten yang lebih baik lagi. Menurut kiai yang tersohor di perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang ini, pasangan WH-Andika sudah lama memiliki hubungan dan kedekatan dengan para ulama dan kiai di Banten, termasuk ulama besar Abuya KH Muhtadi Dimyati. Hal yang sama juga disampaikan Pimpinan Ponpes di Turus, Kabupaten Pandeglang, KH Dahlan Idrus. Kiai pondok pesantren modern yang memiliki ribuan santri ini menyatakan akan mengajak seluruh keluarga besar Ponpes Modern Turus mendoakan dan mendukung WH-Andika pada 15 Februari mendatang. (NEWSmedia : 2017).
Terbukti bahwa Kiayi memiliki karakter atau karismatik didalam masyarakat. Hal itu menjadi fakta dimasyarakat Banten apapun yang dikatakan Kiayi adalah hal yang benar dan turun dari pandangan religius. Dan bagi pasangan calon yang ingin memenangkan PILKADA Banten sering sekali datang ke Pondok Pesantren dengan alasan meminta doa. Tapi agenda lainnya adalah para pasangan calon meminta mobilisasi masa dalam arti luasnya adalah menghegemoni masyarakat atau kaum lain untuk mengikutinya. Karena jika pasangan calon hanya kampanye datang ke masyarakat hanya menyampaikan visi misi belum tentu masyarakat menyikuti atau menerima visi misi. Akan tetapi jika pasangan calon datang ke rumah kiayi, masyarakat akan mudah mendengarkannya. Karena kiayi sebagai simbol masyarakat yang kepribadiannya sangat dihormati dan kata – katanya sampai ke hati oleh masyarakat. Bila dipandang mungkin ini termasuk masih konservatif tapi ini membuktikan bahwa kekuatan politik di Banten, masyarakatnya masih percaya kekuatan fisik dan spritual adalah modal untuk menuju kemenangan. Hal itu terbukti dengan hadirnya dua pilar kuat yaitu Jawara dan Kiayi

KESIMPULAN
Dari semua penyamampaian diatas saya menyimpulkan bahwa partisipasi dan representasi di Banten hanya sebuah simbolik yang artinya kaum jawara dan kiayi yang menguasai semua perpolitikan di provinsi Banten. Dan jawara serta kiayi ini menghegemoni sebuah kalangan dan elemen di Banten dengan membuat wacana bahwa semua urusan kepemimpinan banten berada ditangan dinasti yang diisi oleh jawara dan kiayi yang pro terhadap keluarga H. Chasan Shohib. Dengan kata lain bahwa Jawara dan kiayi adalah elemen masyarakat yang kekuatan hegemoninya sangat kuat. Mereka mengakar dalam kultur masyarakat dan kedua elemen ini tak bisa dipisahkan. Jika saya boleh memberikan masukan. Saya memberikan saran bahwa semua kegiatan presentasi dan representasi dalam demokrasi adalah hak setiap individu. Namun individu yang baik dalam demokrasi adalah individu yang memiliki pilihan sendiri sesuai pemahaman yang demokratis.

DAFTAR REFERENSI
Nezar Patria, Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 1999 hal. 116

Jurnal Teori Hegemoni Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer Oleh: Saptono (dosen PS Seni Karawitan)